Baiti Jannati https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"><strong><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Jurnal Baiti Jannati </span></span></strong><span style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">merupakan jurnal ilmiah yang fokus pada kajian </span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Hukum Keluarga Islam </span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">dan isu-isu kontemporer yang relevan dengan dinamika masyarakat modern. Jurnal ini menjadi wadah publikasi untuk berdiskusi, peneliti, dan praktisi untuk menyampaikan gagasan, hasil penelitian, serta pemikiran kritis yang berbasis pada khazanah turats dan pendekatan ilmiah mutakhir.</span></span></span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;" data-start="0" data-end="381"><span style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Jurnal Baiti Jannati diterbitkan secara berkala </span></span><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">dua kali dalam setahun</span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> , yaitu pada bulan </span></span><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Januari dan Juli</span></span></span><span style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> . Dengan komitmen pada kualitas dan integritas akademik, setiap artikel yang diterbitkan melalui proses seleksi dan review ilmiah guna memastikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan, khususnya dalam bidang Hukum Keluarga Islam di lingkungan ISMAA dan masyarakat luas.</span></span></span></p> en-US Baiti Jannati KONSEP IHDAD DALAM KITAB AN-NIKAH (STUDI KOMPARATIF DENGAN PENDAPAT IMAM MAZHAB DAN RELEVANSINYA DI ERA KONTEMPORER) https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki/article/view/192 <p><em>Ihdad, as a mourning period for women whose husbands have died, has special rules in Islamic law. This article discusses the thoughts of Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari on ihdad in the Book of An-Nikah, compares it with the views of the four schools of thought, and examines its relevance in modern life. This study uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Primary data were obtained from the Book of An-Nikah and secondary data from related literature. The analysis was carried out with a comparative approach to the views of the four main schools of thought (Hanafi, Maliki, Syafi'i, and Hambali). The results of the study show that Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari provides more contextual details regarding the rules of ihdad, including its impact on the protection of lineage and the inheritance system. The relevance of ihdad in the modern era is reviewed from the flexibility of Islamic law which is able to accommodate the needs of career women while maintaining the essence of sharia.</em></p> <p>Ihdad, sebagai masa berkabung wanita yang ditinggal mati suaminya, memiliki aturan khusus dalam syariat Islam. Artikel ini membahas pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari tentang ihdad dalam Kitab An-Nikah, membandingkannya dengan pandangan empat mazhab, dan mengkaji relevansinya dalam kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer diperoleh dari Kitab An-Nikah dan data sekunder dari literatur terkait. Analisis dilakukan dengan pendekatan komparatif terhadap pandangan empat mazhab utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali). Hasil kajian menunjukkan bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memberikan rincian yang lebih kontekstual terkait aturan ihdad, termasuk dampaknya terhadap perlindungan nasab dan sistem waris. Relevansi ihdad dalam era modern ditinjau dari fleksibilitas hukum Islam yang mampu mengakomodasi kebutuhan wanita karir dengan tetap menjaga esensi syariat.</p> Nadya Novianti Copyright (c) 2026 Baiti Jannati 2026-01-17 2026-01-17 3 1 85 85 PEMAHAMAN KONSEP UCAPAN TALAK DALAM KITAB AN- NIKAH SYAIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI DAN IMPLIKASINYA DI ERA MODERN https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki/article/view/197 <p>Marriage is an important aspect of social and cultural life, especially in Islam, where divorce serves as a mechanism to end an inharmonious relationship. This study analyzes the concept of divorce in the book An-Nikah by Shaykh Muhammad Arsyad Al-Banjari, a prominent scholar in the archipelago, which explains the terms, conditions, and implications of divorce. Through a normative approach and legal analysis, this study explores the relevance of understanding divorce and the problems of divorce in the modern era, considering the challenges faced by married couples. Using a literature study method, the author examines the text of the book and Islamic legal sources to provide insight into the importance of understanding divorce in accordance with religious principles and human values. The results of the study show that although divorce is the husband's right, there are procedures and limitations that must be adhered to in accordance with the Marriage Law in Indonesia. This emphasizes the need for justice and legal certainty in society, as well as the importance of understanding divorce in a broader&nbsp;social&nbsp;context.</p> <p>Pernikahan merupakan aspek penting dalam kehidupan sosial dan budaya, terutama dalam Islam, di mana talak berfungsi sebagai mekanisme untuk mengakhiri hubungan yang tidak harmonis. Penelitian ini menganalisis konsep talak dalam kitab <em>An-Nikah</em> karya Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama terkemuka di Nusantara, yang menjelaskan syarat, ketentuan, dan implikasi talak. Melalui pendekatan normatif dan analisis hukum, penelitian ini mengeksplorasi relevansi pemahaman talak dan permasalahan talak di era modern, mengingat tantangan yang dihadapi pasangan suami istri. Dengan menggunakan metode studi pustaka, penulis meneliti teks kitab dan sumber hukum Islam untuk memberikan wawasan mengenai pentingnya pemahaman talak yang sesuai dengan prinsip agama dan nilai kemanusiaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun talak merupakan hak suami, terdapat prosedur dan batasan yang harus dipatuhi sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. Hal ini menegaskan perlunya keadilan dan kepastian hukum dalam masyarakat, serta pentingnya memahami talak dalam konteks sosial yang lebih luas.</p> Aisyatun Nadhirah Copyright (c) 2026 Baiti Jannati 2026-02-27 2026-02-27 3 1 62 62 TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERAN WANITA KARIR DALAM MENJAGA KEHARMONISAN KELUARGA (STUDY KASUS DI DESA JERUK SOK-SOK KECAMATAN BINAKAL KABUPATEN BONDOWOSO) https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki/article/view/496 <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Mencari nafkah adalah kewajiban utama suami dalam rumah tangga. Namun, dalam praktik sosial, istri juga diperbolehkan bekerja dan berkontribusi pada perekonomian keluarga sebagai bentuk dukungan bagi suami. Meskipun demikian, keterlibatan istri dalam angkatan kerja dapat berdampak negatif jika tidak dipertimbangkan dengan cermat, terutama dalam hal berkurangnya waktu untuk peran domestik dan pengasuhan anak. Fenomena ini dapat dilihat di Desa Jeruk Sok-Sok, Kecamatan Binakal, di mana mayoritas perempuan, terutama ibu rumah tangga, bekerja di luar rumah dan masih memikul tanggung jawab keluarga. Bahkan, sebagian dari mereka bekerja sebagai pekerja migran perempuan (TKW) atau pekerja migran Indonesia (TKI). Kondisi ini menunjukkan pergeseran peran ekonomi dalam keluarga, di mana istri juga berperan sebagai pencari nafkah meskipun kewajiban utama berada pada suami. Berdasarkan fenomena ini, pertanyaan penelitiannya adalah: (1) bagaimana perempuan karir menjaga keharmonisan keluarga di Desa Jeruk Sok-Sok, dan (2) bagaimana perempuan karir berperan dalam menyelesaikan masalah keluarga dari perspektif hukum Islam? Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah utama yang dihadapi oleh perempuan karier meliputi pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga, yang berpotensi memengaruhi perkembangan anak dan keharmonisan keluarga. Perempuan karier mengatasi masalah keluarga melalui pertimbangan dan manajemen waktu antara pekerjaan dan keluarga.</span></span></p> Muhammad Sirajul Munir Marhamah Muhammad Juhariyanto Copyright (c) 2026 Baiti Jannati 2026-02-27 2026-02-27 3 1 15 15 MAHAR DALAM PERSPEKTIF BUDAYA: SIMBOLISME DAN MAKNA DALAM TRADISI PERKAWINAN https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki/article/view/504 <p>Mahar merupakan elemen esensial dalam tradisi perkawinan di Indonesia, yang tidak hanya berfungsi sebagai syarat formal perkawinan dalam Islam, tetapi juga sebagai simbol budaya yang kaya makna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simbolisme dan makna mahar dalam tradisi perkawinan masyarakat Jawa, Minangkabau, dan Batak, dengan memadukan perspektif budaya dan agama. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis etnografi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen di tiga lokasi penelitian: Yogyakarta (Jawa), Padang (Minangkabau), dan Medan (Batak) selama periode Januari–Juni 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahar memiliki fungsi multifaset, mencakup nilai spiritual, sosial, dan budaya. Dalam tradisi Jawa, mahar melambangkan penghormatan dan kesakralan perkawinan; di Minangkabau, mahar mencerminkan keseimbangan dalam sistem matrilineal; sedangkan di Batak, mahar (sinamot) menegaskan status sosial dan solidaritas antar-keluarga. Penelitian ini juga mengaitkan praktik mahar dengan ajaran Islam, merujuk pada Al-Qur’an dan hadis, yang menegaskan mahar sebagai wujud tanggung jawab dan penghormatan. Studi ini menegaskan bahwa mahar bukan hanya transaksi material, tetapi juga simbol budaya yang memperkuat identitas dan kohesi sosial dalam masyarakat.</p> Muhammad Juhariyanto Abdul Hanip Muhammad samsul arifin Copyright (c) 2026 Baiti Jannati 2026-02-27 2026-02-27 3 1 92 92 KONSEP IDDAH BERMASUK-MASUKKAN DALAM KITAB AN-NIKAH SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki/article/view/196 <p><strong>Abstract</strong></p> <p><em>Marriage is a sacred agreement between a man and a woman to form a harmonious and happy family. However, the marriage bond can experience a breakdown, which can lead to divorce or the death of one of the partners, requiring the wife to undergo a period of iddah. This iddah period has two main forms, namely for women whose husbands have died and women who have been divorced by divorce. In this case, Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari in the book An-Nikah put forward the concept of iddah in-between, namely the phenomenon of overlap between the iddah talak period and iddah watho' (sexual relations), which is the focus of this research. This research uses a literature study method by analyzing the book An-Nikah to explore Sheikh Arsyad's understanding of the law of iddah, including the iddah of inclusion which is a matter of debate in Islamic jurisprudence. The research results show that this concept refers to the situation where a wife undergoes two periods of iddah, namely iddah talak and iddah watho', which must be calculated with certain provisions. This research also discusses Sheikh Arsyad's views on husband and wife reconciliation during the iddah period, with an emphasis on the conditions for valid reconciliation which must be based on certain words. This analysis aims to provide a deeper understanding of the role and application of the law of iddah entry in Banjar society according to the views of Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><em>Pernikahan adalah perjanjian suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia. Namun, ikatan pernikahan bisa mengalami keretakan, yang dapat mengarah pada perceraian atau kematian salah satu pasangan, mengharuskan istri menjalani masa iddah. Masa iddah ini memiliki dua bentuk utama, yaitu untuk perempuan yang ditinggal mati suami dan perempuan yang dicerai talak. Dalam hal ini, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam kitab An-Nikah mengemukakan konsep iddah bermasuk-masukkan, yaitu fenomena tumpang tindih antara masa iddah talak dan iddah watho’ (hubungan seksual), yang menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menganalisis kitab An-Nikah untuk menggali pemahaman Syekh Arsyad mengenai hukum iddah, termasuk iddah bermasuk-masukkan yang menjadi perdebatan dalam hukum fikih Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep ini merujuk pada situasi di mana seorang istri menjalani dua masa iddah, yaitu iddah talak dan iddah watho’, yang harus dihitung dengan ketentuan tertentu. Penelitian ini juga membahas pandangan Syekh Arsyad tentang rujuk suami-istri selama masa iddah, dengan penekanan pada syarat sahnya rujuk yang harus didasari oleh ucapan tertentu. Analisis ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran dan penerapan hukum iddah bermasuk-masukkan dalam masyarakat Banjar sesuai dengan pandangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.</em></p> Laila Hayati Hayati Copyright (c) 2026 Baiti Jannati 2026-02-27 2026-02-27 3 1 76 76 IMPLEMENTASI MAQASID SYARIAH UNTUK MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER DALAM KELUARGA STUDI KASUS DESA TELUK KARYA https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki/article/view/223 <p>Penelitian ini mengkaji implementasi prinsip Maqasid Syariah dalam mewujudkan kesetaraan gender dalam keluarga di Desa Teluk Karya. Melalui pendekatan normatif-empiris dan wawancara dengan tiga pasangan suami istri, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan untuk menciptakan keharmonisan dan keadilan dalam kehidupan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Teluk Karya telah menerapkan prinsip keadilan gender melalui pemenuhan hak pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan, pembagian tugas domestik secara merata, serta kebebasan dalam berpendapat dan mengambil keputusan dalam rumah tangga. Implementasi ini sejalan dengan tujuan utama Maqasid Syariah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Studi ini menegaskan bahwa kesetaraan gender berbasis Maqasid Syariah berkontribusi signifikan dalam membangun keluarga harmonis yang mendukung kesejahteraan sosial. Penelitian ini memberikan wawasan penting dalam pengintegrasian nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan keluarga yang berkeadilan dan bebas dari dominasi patriarki.</p> Laila Hayati Hayati Copyright (c) 2026 Baiti Jannati 2026-02-27 2026-02-27 3 1 26 26 ANALISIS PEMENUHAN HAK-HAK NORMATIF ANAK KORBAN PERCERAIAN https://e-journal.stai-almaliki.ac.id/index.php/hki/article/view/502 <p>Akibat dari perceraian orang tua mereka dampak yang palingnya terlihat adalah adanya perubahan psikologis anak, dengan indikasi anak jarang berkomunikasi dengan kedua orang tuanya, anak cenderung pendiam, malas, konflik batin, minder serta cenderung nakal, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari orang tua mereka, utamanya menyangkut pemenuhan hak-hak dasar sebagai anak. Tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis pemenuhan hak-hak anak pasca perceraian orang tua. Metode kajian yang digunakan adalah studi deskriptif analitik agar dapat menggali data secara mendalam, Hasil kajian menyimpulkan bahwa: <em>Pertama</em>, upaya pemenuhan hak anak pasca perceraian selama ini belum optimal dilakukan oleh orang tua, utamanya dalam melaksanakan ketentuan perlindungan hak-hak anak, disebabkan oleh pemahaman yang minin, keterbatasan ekonomi, dan kelalaian orang tua. <em>Kedua</em>, meskipun ketentuan peraturan perundang-undangan telah menjamin terhadap pemenuhan hak-hak anak pasca perceraian seperti diatur dalam ketentuan Kompilasi Hukum Islam dan Undang-undang No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dimana kedua ketentuan tersebut saling menguatkan dan tidak ada <em>conflict of norm</em>. Namun dalam tataran praktik, hak-hak anak pasca perceraian tidak seutuhnya terpenuhi disebabkan oleh beberapa hal seperti diuraikan pada poin pertama</p> Abdul Hanip Abdul Hanip Muhammad Juhariyanto Copyright (c) 2026 Baiti Jannati 2026-02-27 2026-02-27 3 1 34 34